Nostalgia Karnaval dan Sirkus

23.27 Diposting oleh eksentrik artistik

Benak seorang gadis kecil dipenuhi oleh fancy little things. Imajinasi mereka tidak terlepas dari tetek bengek yang terlihat manis, unik, menarik & berwarna warni. Mereka menyukai hal-hal lucu, mencolok dan kadang terkesan agak norak untuk membangun rasa ketertarikan mereka. Sepupu kecil saya mempunyai hal spesifik mengenai sesuatu yang dapat membangunkan ketertarikannya.

Jika mereka bilang saya sebagai pecandu minuman kopi, maka sepupu kecil saya kecanduan pada hal lain yang dinamakan AROMANIS. Gumpalan mengembang berwarna shocking pink yang rasanya terlalu manis ini akan langsung membuatnya berbinar-binar.

Aromanis tentunya identik dengan perayaan-perayaan megah seperti karnaval atau parade sirkus. Tentu saja karena benda tersebut dapat mudah ditemui dalam acara seperti ini. Hal ini membuat saya sedikit flashback dalam nostalgia karnaval masa kecil.

Berbicara mengenai dunia yang kaya dengan keunikan ini tidak akan ada hentinya bagi saya. Saya memang mempunyai ketertarikan besar terhadap hal tersebut. Imajinasi menuntun saya ke dunia yang penuh dengan keajaiban.

Yang terlintas dalam pikiran adalah pertunjukkan dengan dekor yang megah, penuh warna dan lampu-lampu kecil, make-up mencolok, pertunjukkan binatang, merry-go-round atau bianglala, serta masih banyak hal menawan lainnya.

Diantara semua hal itu, masih ada yang dinamakan sirkus. Sebentuk komunitas, hidup di antara sebuah tenda besar yang dikelilingi mobil-mobil karavan demi sebuah pertunjukan. Biasanya mereka menghibur penonton dengan atraksi-atraksi yang itu-itu saja.

Yang pasti ditampilkan adalah akrobat, pertunjukan binatang, pameran orang-orang aneh, berjalan di atas tali, juggling, sepeda roda satu, atau hiburan-hiburan dari para badut. Sebuah pertunjukkan yang menurut saya membosankan tetapi tetap membawa anak-anak serta orang dewasa ke dalam dunia ajaib, lucu dan puitis. Walaupun membosankan, toh saya tetap menyukainya.



Namun entah mengapa akhir-akhir ini pertunjukkan sirkus dari Indonesia terlihat meredup. Malahan yang saya tahu hanya ada dua grup sirkus cukup ternama dari Indonesia. Holiday Circus dan Oriental Circus. Oriental Circus memang berhasil eksis selama 40 tahun dan disebut sebagai satu-satunya sirkus nasional yang terlengkap, termegah, dan terbesar di Asia Tenggara. Namun tetap saja, ada perbedaan besar dengan negara seperti Perancis yang banyak memiliki grup sirkus keliling.

Saya jadi ingat saat Clothilde Grandguillot, fotografer yang sempat menggelar pameran foto tentang dunia sirkus Indonesia di CCF Jakarta, berasumsi bahwa Indonesia tak punya tradisi sirkus. Di Perancis, sirkus adalah bagian dari kehidupan, tradisi sirkus sangat mengakar, berbeda dengan di Indonesia yang sisi artistiknya masih belum berkembang.


Negara lain seperti Rusia bahkan mempunyai sekolah sirkus sendiri. Semua atraksi dan teknik berakrobat dapat dipelajari dalam sebuah sekolah kejuruan di Rusia yang memang secara khusus memberikan program kejuruan sirkus mulai dari usia sekolah dasar. Di Asia, hanya Cina yang terus mengembangkan sirkus. Termasuk menggabungkan sirkus dengan kungfu. Banyak sekolah sirkus dan seni pertunjukan didirikan di sana karena adanya dukungan pemerintah. Sedangkan di Indonesia, kita bisa lihat sendiri kenyataannya.

Kembali ke nostalgia karnaval masa kecil saya dulu. Bersama keluarga, saya sempat melihat sirkus. Memang tidak seglamour Cirque du Soleil, dan bukan dalam perayaan megah seperti yang ada dalam imajinasi saya tadi. Dari luar tenda-tenda yang dipasang masih sangat sederhana. Kelap kelip lampu tidak seindah seperti yang saya bayangkan. Arena permainan bianglala terlihat agak kusam dan disana sini cat-nya sudah terkelupas.

Alih-alih melodi accordion atau musik-musik sirkus, yang membahana adalah musik dangdut dengan volume yang cukup mengganggu. Atraksi-atraksi yang ditampilkan pun standar saja dengan hiasan make-up seadanya.
Perayaan ini kita kenal dengan nama yang terdengar sedikit lebih kampring. Pasar Malam. Yap, sebuah pasar hiburan malam hari yang menyerap para masyarakat menengah-kebawah berbondong-bondong pergi kesana hanya untuk mencari kesenangan.

Yang biasanya paling ramai dikunjungi adalah rumah hantu dengan efek penerangan buruk dan penampakan yang tidak terlalu mengagetkan. Yang dijual pun bukan aromanis berbentuk gumpalan bola kapas, tapi aromanis berwarna pink yang terlihat seperti jalinan-jalinan rambut yang biasanya dapat dibeli dari penjual mainan keliling.

Walaupun perayaan ini tidak terlalu megah dan semua serba terbatas, namun disana-sini saya melihat pengunjung-pengunjung merasa senang dan nyaman berada dalam pesta kecil ini. Simple, tapi saya juga merasa terhibur berada di dalamnya.


Lalu, kapan pesta kecil ini akan dirayakan kembali?
Reaksi: 
You can leave a response, or trackback from your own site.

0 Response to "Nostalgia Karnaval dan Sirkus"

Posting Komentar